Industri konsol game tengah mengalami fenomena yang belum pernah terjadi sepanjang sejarahnya. Jika pada generasi-generasi sebelumnya harga konsol cenderung turun seiring waktu berkat penyegaran model dan efisiensi produksi, generasi konsol saat ini justru menunjukkan tren sebaliknya: harga terus naik dari tahun ke tahun. Generasi konsol ini memperkenalkan tren yang belum pernah terjadi sebelumnya, yaitu harga perangkat keras yang justru naik alih-alih turun seiring berjalannya waktu. Penyebabnya, menurut para produsen, adalah kombinasi antara krisis komponen, gangguan rantai pasok, dan tekanan ekonomi global yang saling bertautan.
Data terbaru menunjukkan betapa signifikannya kenaikan tersebut. Harga PS5 Pro kini mencapai 899,99 dolar AS, naik dari 749,99 dolar, sementara edisi disk PS5 standar naik menjadi 649,99 dolar dari sebelumnya 549,99 dolar. Microsoft pun tak mau ketinggalan. Xbox Series X 1TB yang semula diluncurkan seharga 499,99 dolar akan dibanderol 799,99 dolar mulai 1 Agustus 2026, sementara Xbox Series S naik menjadi 499,99 dolar untuk varian 512GB dan 599,99 dolar untuk varian 1TB.
Bahkan Nintendo, yang selama ini mempertahankan harga peluncuran Switch 2 di angka 449,99 dolar, akhirnya mengumumkan kenaikan menjadi 499,99 dolar mulai 1 September 2026, menandakan bahwa ketiga raksasa konsol kini kompak menaikkan harga perangkat mereka. Dampak dari rentetan kenaikan harga ini mulai terlihat jelas pada perilaku konsumen. Berdasarkan laporan lembaga riset Circana, penjualan unit PS5 di Amerika Serikat anjlok drastis dan Xbox mencatatkan rekor terburuk sepanjang sejarah merek tersebut untuk bulan Mei. Rata-rata harga jual PlayStation 5 melonjak 33 persen menjadi 672 dolar pada Mei 2026, menyebabkan belanja perangkat keras PS5 anjlok 43 persen dan penjualan unit merosot 58 persen — bulan Mei terburuk bagi PlayStation sejak tahun 2000.
Sementara itu, penjualan unit Xbox turun 12 persen meski nilai belanja perangkatnya justru naik akibat harga yang lebih tinggi. Ironisnya, di tengah kelesuan dua raksasa tersebut, Nintendo Switch 2 justru tumbuh pesat karena belum mengalami kenaikan harga, hingga tercatat sebagai konsol dengan pertumbuhan penjualan tercepat kedua dalam sejarah pasar Amerika Serikat, setelah Game Boy Advance. Sejumlah pihak dari industri turut memberikan pandangan mengenai fenomena ini. Analis senior Circana, Mat Piscatella, mencatat bahwa lonjakan penjualan Switch 2 berhasil "mengimbangi penurunan 43 persen belanja PlayStation 5" pada periode yang sama, menunjukkan bagaimana strategi harga langsung memengaruhi peta persaingan pasar.
Di sisi lain, Microsoft secara resmi menjelaskan bahwa kenaikan harga bukan keputusan sepihak tanpa pertimbangan, dengan menyebut bahwa "harga penyimpanan dan memori konsol telah meningkat lebih dari 2,5 kali lipat". Sebagai kompensasi, perusahaan tersebut memperluas skema cicilan tanpa bunga, program tukar tambah, dan opsi refurbished bersertifikat agar perangkat tetap terjangkau bagi sebagian konsumen. Fenomena ini pada akhirnya memunculkan pertanyaan yang lebih besar tentang arah industri game ke depan. Ketika harga perangkat keras terus merangkak naik sementara daya beli konsumen tidak selalu ikut bertambah, gaming yang dulunya menjadi hiburan populer lintas kelas ekonomi perlahan bertransformasi menjadi komoditas yang lebih eksklusif.
Loyalitas merek kini diuji bukan lagi oleh eksklusivitas game atau kualitas grafis semata, melainkan oleh kemampuan finansial calon pembeli. Dengan konsol generasi berikutnya—termasuk kabar mengenai proyek next-gen dari Sony dan Microsoft—sudah mulai dibicarakan, publik pun menanti apakah tren kenaikan harga ini akan terus berlanjut, atau justru menjadi titik balik bagi industri untuk kembali merangkul gamer dari semua kalangan ekonomi.
